X

Doyan Selfie? Hati-hati mengidap Selfitis, Gangguan Mental Akibat Terobsesi Berselfie

Bangun tidur, selfie. Lagi makan, selfie. Lagi bete, selfie. Lagi nangis, selfie.

Kamu salah satu yang melakukan selfie sesering ini, D’RIMers? Hati-hati jika dilakukan terlalu sering, apalagi dalam tempo yang cukup dekat. Bukannya kepuasan diri yang didapatkan, kamu justru bisa mengalami gangguan mental atau selfitis.

Fenomena Selfie

selfie

Pada tahun 2013, kata ‘selfie‘ masuk dalam Oxford English Dictionary. Di Indonesia sendiri, kata selfie lebih familier didengar dibandingkan bahasa Indonesianya, ‘swafoto’. Fenomena ini semakin ramai ketika vendor ponsel mengeluarkan produk dengan kamera sebagai fitur utama. Padahal awalnya, kamera di ponsel hanyalah fitur tambahan.

Kecanggihan kamera dan media sosial, membuat seseorang semakin terobsesi dengan swafoto. Sehingga pada 2014 muncullah istilah selfitis untuk menggambarkan perilaku obsesif seseorang pada swafoto.

Penelitian Gangguan Mental Akibat Selfie

selfie

Para peneliti dari Nottingham Trent University dan Thiagarajar School of Management menginvestigasi istilah selfitis. Para peneliti mengembangkan skala perilaku selfitis untuk mengukur seberapa buruk seseorang mengidap gangguan mental tersebut. Penelitian dibagi menjadi beberapa subkategori yang menunjukkan mengapa orang mengambil swafoto.

Para responden adalah siswa berusia rata-rata 20 tahun. Usia ini dianggap pas untuk mengeksplorasi fenomena tersebut. Hasil penelitian terhadap siswa menunjukkan angka yang relevan. 55% siswa melakukan 1-4 swafoto setiap hari, 9%  berswafoto lebih dari 8 kali. Dan yang menarik, 34% tidak pernah memposting autentik mereka secara online.

Penelitian ini dikembangkan di India karena negara tersebut memiliki pengguna Facebook dan jumlah kematian akibat swafoto yang tinggi.

“Kami mengonfirmasi bahwa selfitis termasuk gangguan mental. Dan skala perilaku selfitis dibuat agar kita bisa menyadari ciri-cirinya,” kata Profesor Mark Griffiths, ahli perilaku kecanduan dari Nottingham Trent University, seperti dikutip dari National Geographic.

Enam Faktor Penyebab

selfie

Para responden juga diminta untuk mengisi dan memberikan nilai pada kuesioner. Beberapa pertanyaan tersebut adalah apakah mereka merasa lebih baik, percaya diri, mendapat perhatian dari orang banyak, dan merasa diterima oleh kelompoknya saat melakukan swafoto.

Dari penelitian tersebut, para peneliti menyimpulkan ada enam faktor penyebab gangguan selfitis. Mereka yang mengidap selfitis umumnya berusaha untuk meningkatkan kepercayaan diri, mencari perhatian, memperbaiki mood, membuat kenangan, menyatu dengan kelompok sosialnya dan bersikap kompetitif.

Rekan Profesor Mark yang juga peneliti, dr. Janarthanan Balakrishnan, menambahkan: “Mereka yang memiliki kondisi kurang percaya diri dan berusaha menyesuaikan diri dengan orang-orang di sekitar mereka, mungkin menampilkan gejala serupa,” katanya. (IF)

Be Adventurous, Creative and Positive!