X

Catcalling: Pelecehan Seksual Verbal yang Dianggap Bercanda dan Disepelekan

“Kiw, cantik, ganteng, assalamualaikum, suit-suit..”

Pernah dipanggil seperti ini ketika melewati segerombolan orang? Atau pernah disiulin bahkan ada kontak fisik? Jangan dianggap sepele, hal ini ternyata bisa dikategorikan dalam pelecehan seksual verbal atau catcalling.

Meski terdengar sederhana, di beberapa negara, perilaku tersebut melanggar hukum. Salah satunya Perancis yang tegas memberikan hukuman terhadap pelaku catcalling.

Apa Catcalling?

catcalling

Catcalling merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan verbal atau siulan yang bermaksud menggoda atau melecehkan perempuan. Selama ini catcalling dianggap biasa dilakukan. Bahkan para pelaku maupun korban tidak menyadari bahwa aksi ini merupakan bentuk pelecehan seksual secara verbal. Oleh karena itu, isu ini seringkali masih dianggap sepele dan biasa.

Kota Kelima Tertinggi di Dunia Tingkat Pelecehan Verbal

catcalling

Melansir Tirto.id, YouGov menempatkan Jakarta sebagai kota kelima di dunia dengan tingkat pelecehan verbal terhadap perempuan paling tinggi, khususnya di transportasi umum. Empat kota di atasnya ialah kota Meksiko, Delhi, Bogota, dan Lima.

Peringkat ini tentu bukan prestasi melainkan sebuah ironi. Kurangnya pemahaman masyarakat mengenai catcalling menjadi salah satu alasannya.

Kebingungan Korban Menghadapi Catcalling

catcalling

Noa Jansma berswafoto dengan pelaku catcalling. Hal ini dia lakukan sebagai bentuk protes bagi para pelaku.

Berbagai reaksi ditunjukkan korban, mulai dari berani menegur langsung, melototi pelaku hingga bingung dan diam.  Sebuah cara yang tak biasa dan berani pernah dilakukan oleh pelajar dari Amsterdam, Noa Jansma. Kerap mendapatkan catcalls, ia pun mendokumentasikan foto-foto pelaku bersama dirinya.

Salah Panggil, Gerakan Sadar Catcalling

catcalling

Berangkat dari isu ini, beberapa gerakan pun dicetuskan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa catcalling bukanlah hal sepele. Salah satunya gerakan sosial berbasis media online, Salah Panggil. Gerakan ini bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai catcalling dan bagaimana catcalls dapat dikategorikan sebagai bentuk pelecehan seksual.

Inisiator gerakan Salah Panggil, Rosabelle Sibarani mengatakan kepada RIM, selama ini korban merasa sendiri dan berpikir catcalling ditujukan kepada mereka yang berpakaian seksi.

“Oh, karena baju gue terlalu ketat atau badan gue terlalu semok makanya gue dicatcalls. Padahal kenyataannya teman yang berkerudung pun dicatcall.” ujarnya. Oleh karena itu, melalui gerakan ini Rosabelle berharap para korban catcalling bisa berbagi cerita dan tahu bagaimana menghadapi catcallers. (IF)

Be Adventurous, Creative and Positive!