X

Indonesia International Book Fair 2017: It is not just a book fair; it’s a book affair!

Ketika buku menjadi sumber dan muara dari semua kreativitas dan aktivitas. Ketika pameran buku menjadi judul agung bagi pameran multiproduk kreatif, maka kita memerlukan lebih dari sekadar book fair. Kita membutuhkan book affair!

Tujuan inilah yang ingin dicapai dalam penyelenggaraan Indonesia International Book Fair (IIBF) 2017. Sejak pertama kali digelar oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada 37 tahun lalu hingga kini, hadir sebagai peristiwa kebudayaan tahunan yang unik serta melibatkan aspek bisnis dan aspek intelektualitas sekaligus. IIBF tahun ini diselenggarakan di Assembly Hall Jakarta Convention Center tanggal 6-10 September 2017.

Rosidayati Rozalina, Ketua Umum IKAPI, mengatakan bahwa IIBF terus berbenah melakukan transformasi. Khususnya dalam empat tahun terakhir sedang berusaha keras mengakomodir persyaratan-persyaratan standar sebagai pameran buku internasional, tanpa meninggalkan karakter tradisonalnya sebagai pameran retail.

“IKAPI melihat perlunya kehadiran book fair, baik yang berkarakter profesional maupun publik, dari banyak aspek, yang tidak tergantikan oleh koneksi online. Bisnis, lebih-lebih internasional, berbasiskan kepercayaan, dan karena itu kontak fisik diperlukan. Percakapan, kontak mata, bahasa tubuh, dan jabat tangan hanya terjadi di ruang pameran. Pameran buku memuliakan pengarang dan pembaca. Di sini, mereka mendapatkan panggung kehormatan untuk berinteraksi, bertukar pikiran dan beradu argumen, sekaligus untuk menunjukkan eksistensi sebagai kaum cerdik pandai yang tidak mereka nikmati di banyak kesempatan lain,” ungkap Rosidayati.

Di luar aspek bisnis dan komersil, IIBF, punya makna stategis lain yakni peristiwa kebudayaan penting, etalase capaian literasi bangsa. Selain berguna secara ekonomi, IIBF adalah juga alat diplomasi kebudayaan. Karena itu, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) turut memberi dukungan dalam penyelenggaraan IIBF. Apalagi penerbitan masuk menjadi salah satu sub-sektor industri kreatif. Dari 16 subsektor industri kreatif yang bernaung di bawah Bekraf, penerbitan menempati peringkat ke-5 dalam kontribusi PDB Ekonomi Kreatif (Ekraf) yaitu menyumbang Rp53,59 trilyun atau 6,29%  dari total PDB Ekraf.

Husni Syawie, Ketua Panitia IIBF 2017 menjelaskan bahwa, IKAPI dan panitia IIBF akan terus bekerja untuk mewujudkan IIBF yang prestisius secara internasional dan sekaligus ramah bagi penerbit dalam negeri. Harga stand yang bijaksana, pengunjung yang ramai, transaksi yang banyak, acara yang padat adalah di antara target-target yang ditetapkan.

IIBF 2017 diikuti sejumlah negara, yaitu Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand, Taiwan, China, Korea, Jepang, Jerman, Perancis, Belanda, Bosnia, India, Mesir, Saudi Arabia dan Inggris.Selain menampilkan buku dan produk dari penerbit-penerbit Indonesia, IIBF juga menghadirkan buku-buku dari penerbit mancanegara.

Setiap tahun, IKAPI juga memberikan penghargaan terhadap penulis dan karya terbaik, juga pihak-pihak baik perorangan, organisasi, maupun lembaga yang menunjukkan kepedulian memberikan kontribusi dalam peningkatan budaya literasi masyarakat Indonesia.

Penghargaan disampaikan dalam bentuk pemberian IKAPI Award yang diserahkan dalam acara Pembukaan IIBF. IKAPI Award tahun ini terdiri atas 3 kategori, yakni Book of The Year diberikan kepada buku Happy Little Soul karya Retno Hening Palupi yang diterbitkan oleh Gagas Media. Writer of the Year diberikan kepada Pidi Baiq. IKAPI Award untuk kategori Literacy Promoter diberikan kepada Najwa Shihab.

Be Adventurous, Creative and Positive!