X

Film Turah Masuk Nominasi Oscar, Kenapa Gak Film Rafathar? Inilah Alasannya!

Menjadi masyarakat kurang mampu (miskin) itu menyakitkan. Semuanya serba terbatas. Mau hidup, sekolah, sehat, sampai urusan makan. Dan yang lebih menyakitkan, sebagai orang kurang mampu, kerap kali diperdaya oleh orang-orang yang katanya berpendidikan.

Hal itulah yang coba disampaikan dalam film Turah karya Wicaksono Wisnu Legowo. Film berdurasi 83 menit ini menyuguhkan potret kampung tertinggal di Kota Tegal yang dekat sekali dengan kemiskinan. Tetapi siapa sangka film yang terkesan jauh dari kemewahan ala film Rafathar ini ternyata terpilih mewakili Indonesia dalam Oscar melalui Kategori Film Berbahasa Asing.

Keren? Tentunya! Tetapi apa yang membuat film sederhana ini mengalahkan film berefek canggih CGI dan motion capture seperti film Rafathar? Simak ulasannya yuk!

Sampaikan pesan yang universal dan humanis

Turah terpilih usai Komite Seleksi Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) memasukkan 130 film. Komite seleksi yang terdiri dari 13 orang termasuk Christine Hakim, Reza Rahadian, Mathias Muchus, dan Marcella Zalianty ini menilai, Turah memiliki cerita yang sederhana, teknis yang biasa saja, namun penggarapannya dramatis dan pesannya sangat kuat.

Marcella Zalianty, salah satu juri seleksi, mengatakan bahwa film Turah menggambarkan pesan yang universal dan humanis.

“Film Turah menyampaikan fakta kemanusiaan, fakta sosial dengan cukup apik. Artinya dia punya pendekatan artistik dengan sederhana tetapi kejujurannya ini terhadap karya ini menjadi sebuah kekuatan. Di balik kesederhanaan itu ada permainan-permainan konsep yang akhirnya secara keseluruhan juri melihat cocok,” ungkapnya, melansir Liputan 6, (22/09).

Potret yang terjadi di Indonesia

Apa yang terjadi di Indonesia saat ini, khususnya di daerah pelosok digambarkan begitu gamblang dalam film ini. Kampung Tirang yang menjadi setting cerita film ini hanyalah satu diantara sekian banyak kampung tertinggal yang ada di Indonesia. Dalam film ini kita diajak menelusuri dan meresapi kekumuhan dan keterisolasian kampung itu. Rumah mereka berdinding papan kayu, beralas tanah, dan tanpa listrik.

Suara dan keberanian seorang miskin

Adanya orang berpendidikan yang licik malah memperparah keadaan di Kampung Tirah. Warga kampung terintimidasi dengan kehadiran sosok juragan kaya dan sarjana licik. Mereka memanfaatkan keluguan warga kampung.

Sampai suatu ketika terjadi peristiwa yang mendorong Jagag dan Turah melawan rasa takut dan berani melakukan perubahan. Inilah usaha mereka agar tidak lagi menjadi manusia kalah dan manusia sia-sia. (IF)

Be Adventurous, Creative and Positive!