X

Empat Hari Penyelenggaraan, ASEAN Literary Festival Sukses Digelar

ASEAN Literary Festival (ALF) ke-4 tahun ini telah berlangsung selama empat hari, beragam acara digelar dalam pagelaran sastra terbesar di Asia Tenggara yang didukung penuh oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini. Mulai dari belanja buku yang juga diikuti oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid, diskusi tentang penistaan agama, sampai pesta puisi bersama Aan Mansyur.

Terdapat 24 stan komunitas yang memamerkan produk-produk kreatif mereka. Seperti booth Penerbit Lontar, Penerbit Buku Perempuan, Thukul Cetak, Goodreads, dan percetakan Gramedia Utama. Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid tak mau ketinggalan dengan pengunjung ALF 2017, ia ikut blusukan mencari buku-buku yang ia minati. Saat mengunjungi stan-stan tersebut, Hilmar berhenti sejenak dan mengamati buku-buku terbitan penulis asal Indonesia, seperti Haidar Bagir.

Dari beberapa buku yang ia borong, Hilmar menaruh perhatian pada buku-buku yang diterbitkan oleh penulis perempuan. Seperti Saras Dewi, Feby Indirani, dan Okky Madasari. Buku yang ia beli antara lain, Saras Dewi-Kekasih Teluk, Feby Indriani-Bukan Perawan Maria, Okky Madasari-Yang Bertahan dan Binasa Perlahan, Saat membeli buku-buku tersebut, ia menanyakan tentang isu yang diangkat dari buku tersebut.

Salah satu penerbit Indie dari Malaysia yang turut memeriahkan ALF 2017

Selain stan penerbit dan komunitas sastra dari Indonesia dan Negara ASEAN, ALF juga dimeriahkan dengan berbagai seminar dengan tema menarik. Salah satunya adalah seminar dengan pembicara Arswendo Atmowiloto. Arswendo Atmowiloto berbagi tentang pengalaman hidupnya, mulai dari menulis buku anak hingga terjerat pasal penistaan agama.

Cerita mengenai pengalamannya dimulai dari riwayat hidupnya sejak ia kecil. Menurutnya, sejak ecil ia telah jatuh hati pada sastra termasuk puisi. Ia pun gemar membaca cerita-cerita klasik mandarin, salah satunya adalah tentang Jin Ping Mei.

Pada 1970-an, para penerbit diharuskan untuk menerbitkan buku anak-anak, Arswendo pun menyesuaikan diri. “Saya tidak terlalu kesulitan untuk menulis” ungkapnya ketika ditanya apakah menulis buku anak lebih sulit dari menulis buku biasa.

Acara ALF Sabtu malam dilanjutkan dengan kompetisi puisi yang dipandung oleh Komunitas Puisi Ibukota Unmasked bersama Pangerang Siahaan. Acara dihadiri oleh ribuan pengunjung yang mayoritas anak muda dan diselenggarakan di Fatahillah Square tersebut, menjadi penutup rangkaian acara ALF pada hari itu.

Pada hari terakhir penyelenggaraan, sejumlah agenda menarik seperti Literary Lunch With Okky Madasari, diskusi buku Revolusi Iran hingga Closing Night menutup keseruan ALF selama digelar empat hari. (IF)

Be Adventurous, Creative and Positive!