X

Cari Tahu Tentang Kecerdasan Adversity Quotient (AQ) dari Surat Jendral Mac Arthur Untuk Anaknya

Seiring dengan perkembangan zaman, kecerdasan harus yang dimiliki seorang anak tidak saja terbatas pada IQ (Intellegence Quotient), EQ (Emotional Quotient), SQ ( Spiritual Quotient)  tetapi juga Adversity Quotient (AQ). Menurut psikolog Paul G. Stoltz, AQ adalah kecerdasan untuk mengatasi kesulitan, bagaimana mengubah hambatan menjadi peluang.

Hal senada juga dikatakan oleh Elly Risman, Senior Psikolog Anak asal Indonesia. Dibawah ini ada kutipan surat Jendral Douglas MacArthur (Jendral Amerika Serikat) untuk anaknya yang bisa jadi refrensi tentang bagaimana orangtua menumbuhkan kecerdasan AQ pada anak.

 

Tuhanku…

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.

Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.

Manusia yang sabar dan tabah dalam kekalahan.

Tetap jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

 

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya

dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.

Seorang Putera yang sadar bahwa

mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

 

Tuhanku…

Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak.

Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.

Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai

dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

 

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi,

sanggup memimpin dirinya sendiri,

sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

 

Berikanlah hamba seorang putra

yang mengerti makna tawa ceria

tanpa melupakan makna tangis duka.

Putera yang berhasrat

untuk menggapai masa depan yang cerah

namun tak pernah melupakan masa lampau.

 

Dan, setelah semua menjadi miliknya…

Berikan dia cukup rasa humor

sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh

namun tetap mampu menikmati hidupnya.

 

Tuhanku…

Berilah ia kerendahan hati…

Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…

Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…

 

Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud,

hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”

Satu benang merah yang bisa kita tarik dari surat king Arthur untuk anaknya adalah dia ingin anaknya menjadi kuat menghadapi “badai” kehidupan. Hal ini sejalan dengan pendapat Paul G. Stoltz dan Elly Risman tentang kecerdasan AQ.

So, mulai sekarang sebagai orangtua kita harus membiasakan anak untuk bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri dan membuat mereka mandiri. Tidak selamanya orangtua ada bersama mereka.

Live isn`t about waiting for the storm to pass. It`s learning to Dance in the rain. (PHP)

 

Be Adventurous, Creative and Positive!